|
Tren pinjaman multifinance kepada bank hingga September tahun ini semakin meningkat terutama berasal dari bank lokal seiring dengan longgarnya likuiditas dan upaya lembaga keuangan tersebut dalam memasuki pasar ritel pembiayaan. Berdasarkan data Bank Indonesia, pinjaman multifinance terus meningkat sejak Juli tahun ini hingga September. Bahkan, sebagian pelaku usaha menyatakan ketatnya likuiditas pada awal tahun ini kian tidak terasa. Pada Juli, pinjaman bank mencapai Rp98,5 triliun kemudian meningkat menjadi Rp101,2 triliun dan akhirnya tembus Rp101,5 triliun pada September. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di mana hanya mencapai Rp97 triliun, utang multifinance ini meningkat 4,6%. Presiden Direktur PT Adira Dinamika Multifinance Tbk Stanley Setia Atmadja mengatakan tingginya kredit bank mengindikasikan likuiditas perbankan saat ini mulai longgar dibandingkan dengan kuartal I/2009. Stanley menilai utang multifinance yang besar menandakan bank juga memiliki cara tersendiri masuk ke pasar ritel melalui pinjaman kepada perusahaan pembiayaan dengan skema pembiayaan bersama (joint financing). "Ini [memberikan pinjaman] kan salah satu cara bank masuk ke ritel dengan membantu dana multifinance. Kalau joint financing kan asetnya bank, kami [multifinance] hanya sebagai penjual," katanya kepada pers, kemarin. Dia mengatakan longgarnya likuiditas bank tersebut berbanding terbalik dengan semester I/2009 di mana sebagian besar bank baik lokal maupun asing masih mengerem kreditnya kepada perusahaan pembiayaan. Pada kesempatan terpisah, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Wiwie Kurnia mengatakan penyesuaian bunga pinjaman bank sesuai dengan BI rate 6,5% juga mendorong kenaikan utang multifinance. Lokal agresif Wiwie mengatakan pinjaman bank lokal masih mendominasi dibandingkan dengan bank asing. Hal itu lantaran bank asing masih terpengaruh likuiditas keuangan global. Data BI tersebut menunjukkan pinjaman bank lokal ke multifinance per September meningkat ke level tertinggi sepanjang tahun ini yakni Rp55,9 triliun. Sebelumnya level utang tertinggi terjadi pada Februari yang menembus Rp55 triliun. Pada awal tahun pinjaman hanya Rp54,9 triliun. Presiden Direktur PT Artha Prima Finance Junus Elim Leatemia menilai secara umum pinjaman multifinance mulai longgar dan mulai gencar memberikan dana kepada multifinance. (Bisnis Indonesia - Jumat, 13 November 2009)
|