|
Pelaku industri pembiayaan (multifinance) menganggap penerapan perdagangan bebas antara negara anggota Asean dan China (ACFTA) tidak berdampak besar dalam jangka pendek terhadap pertumbuhan industri ini mengingat komposisi penjualan kendaraan bermotor dari non-Jepang belum signifikan. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia mengatakan kendaraan bermotor dari China masih sekitar 1% dari total penjualan kendaraan nasional sehingga pengaruhnya nyaris tak tampak. "Kontribusinya baru sekitar 1%, itu juga belum tahu porsi pembelian secara kreditnya berapa persen lagi jadi tidak begitu pengaruh," katanya kepada Bisnis di Jakarta, baru-baru ini. Wiwie mengatakan meskipun dengan penerapan ACFTA tersebut bea masuk kendaraan impor menjadi 0% tidak menjadi pendorong kenaikan permintaan produk kendaraan non-Jepang. Menurut dia tipe konsumen lebih memilih kendaraan terkait dengan kebutuhan dan gengsi sehingga harga murah belum tentu menjadi alasan permintaan tinggi. "Masyarakat beli mobil misalnya kan karena kebutuhan, gengsi, dan investasi. Alasan ini menjadikan faktor harga murah tak jadi soal permintaan naik," katanya. Oleh sebab itu, pihaknya mempertahankan pertumbuhan aset multifinance tahun ini sebesar Rp200 triliun setelah pada November sudah mencetak Rp173 triliun. Corporate Secretary & Legal Manager PT Bhakti Finance Yudhananta menambahkan keunggulan masuk ke pasar mochin (motor China) dikarenakan belum banyak dilirik oleh multifinance lainnya. Bhakti Finance membiayai beberapa merek mochin di antaranya Viar (Taiwan), Beijing, Tossa, dan Jialing (China). (Bisnis Indonesia - Selasa, 02 Februari 2010)
|