|
Sebagai sebuah organisasi profesi Asosiasi Leasing Indonesia (ALI) berdiri pada 2 Juli 1982. Sebetulnya,
organisasi ini punya nama lain, seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 Anggaran dasar (AD)-nya, yaitu
Asosiasi Lembaga Pembiayaan Indonesia (APLI). Tetapi agaknya nama yang pertama lebih dikenal para
pelakunya dan masyarakat luas.
ALI didirikan sebagai satu-satunya wadah komunikasi bagi perusahaan-perusahaan pembiayaan. Di sini
mereka secara bersama-sama membicarakan dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. ALI juga hadir
untuk memperjuangkan kepentingan anggotanya kepada pemerintah. Di sisi lain, organisasi ini juga
bermaksud menjadi jembatan untuk meneruskan keinginan dan bimbingan pemerintah kepada para anggota.
Sederet sasaran ideal menjadi tujuan didirikannya ALI. Paling tidak, pasal 6 AD-nya menyebutkan lima
tujuan utama organisasi ini. Di antaranya memajukan dan mengembangkan peranan lembaga pembiayaan di
Indonesia serta memberikan sumbangsih bagi kemajuan perekonomian nasional.
Dalam perjalanan sejarahnya, ALI mengalami pasang naik dan pasang surut. Para pengurus yang silih-berganti
berupaya memberikan yang terbaik guna pemecahan, kemajuan dan perkembangannya. Sejak didirikan, tercatat
sudah 12 kali terjadi pergantian kepengurusan. Sebetulnya, periodisasi kepengurusan ditetapkan tiap dua
tahun. Namun dalam beberapa kasus, terjadi pergantian kepengurusan sebelum masa jabatan berakhir.
Untuk pertama kalinya ALI dipimpin S. Ranty dan Muchsin Firdaus, masing-masing sebagai Ketua Umum (Ketum)
dan Sekretaris Jenderal (Sekjen). Namun pada 16 Maret 1983, susunannya berubah menjadi Tryana Sjam'un
sebagai Ketum dan D.S. Surianingrat menjadi Sekjen. Berikutnya, periode 1984-1985 ALI dipimpin Tryana Sjam'un
dan Tjiptono Darmadji.
Selanjutnya, pada periode Mei 1987-1989, Tjiptono memimpin ALI sebagai Ketum. Dia didampingi Indra Wijaya selaku
Sekjen. Sedangkan pada 1989-1991, ALI dipimpin Dewobroto MS dan M.V. Adhiprabawa, masing-masing sebagai Ketum dan
Sekjen. Setelah itu, sang Sekjen naik menjadi Ketum pada periode 1991-1993. Dia didampingi Mustafa I. Jatim
sebagai Sekjen.
Agaknya, kaderisasi di tubuh ALI berlangsung lumayan mulus. Hal ini ditandai dengan duduknya Mustafa sebagai
Ketum pada kepengurusan 1993-1995. Waktu itu, Albertus Banunaek dipercaya menjadi Sekjen. Seperti juga yang
lain, Albert selanjutnya duduk menjadi Ketum pada periode berikutnya (1995-1997). Theresia Adiwijaya saat itu
diberi mandat sebagai Sekjen. Dia sekaligus menjadi wanita pertama yang duduk di posisi pengurus teras ALI.
Pasangan Albert dan Theresia agaknya cukup mendapat tempat di kalangan anggota. Hal itu dibuktikan dengan kembali
mereka berdua dipercaya menjabat posisi tersebut untuk periode 1997-1999.
|